Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

Islam Nusantara – Pendiri, Sejarah, dan Kontroversinya

3 min read

islam nusantara - sejarah dan tokoh-tokoh nya

Bagaimana seseorang mendefinisikan Islam Nusantara dan bagaimana perbedaannya dengan Islam di wilayah lain di seluruh dunia? Gagasan Islam satu ini pernah menjadi tema konferensi nasional ke-33 Nahdlatul Ulama, atau muktamar, pada Agustus 2015. Perselisihan antara pendukung dan penentang Islam Nusantara benar-benar bermuara pada perdebatan klasik tentang Islam dan budaya di Indonesia.

Apakah budaya Jawa telah diislamkan sehingga praktik-praktik yang bertentangan dengan syariah dimodifikasi agar lebih mencerminkan ajaran Islam? Atau apakah budaya Jawa telah menyusup ke ritual-ritual Islam, sehingga ekspresi dan praktik Islam di Jawa berbeda dengan Islam “murni” yang dipraktikkan di Arab Saudi? Jadi sebenarnya apakah Islam Nusantara itu sendiri?

Pendiri Islam Nusantara

Islam di Indonesia adalah negara kepulauan Islam, karena ia lahir sebagai hasil dari proses islamisasi beberapa karakter heroik. Proses Islamisasi di Indonesia tidak seperti di Negara Arab yang sudah menganut Islam.

Sedangkan di Indonesia adat dan kepercayaan Islam saat itu masih dipengaruhi oleh budaya syariah Arab karena Islam yang lahir di Indonesia tidak dengan sendirinya dan dipengaruhi oleh faktor-faktor islamisasi.

Diakui, Islam di Sulawesi berbeda dari Jawa dan Sumatra, yang di Jawa dan Sumatra, Muslim lebih menjunjungu ulama Muslim dari wilayah Indonesia sendiri daripada tokoh Islam dari negara lain atau wilayah lain.  Dengan kata lain, muslim Indonesia lebih hormat pada perjuangan ulama dan pemimpin Islam terkemuka di wilayah itu sendiri.

Di pertengahan abad terakhir, beberapa cendekiawan Muslim Indonesia menawarkan apa yang mereka sebut fiqh Indonesia, untuk merujuk pada fiqh yang menyesuaikan atau mempertimbangkan legitimasi adat setempat atau ‘adat istiadat’. Gagasan ini dipopulerkan oleh, antara lain, profesor M. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Munawir Sjadzali, almarhum mantan menteri urusan agama sekaligus pendiri Islam Nusantara.

Ash-Shiddieqy mengatakan berjabat tangan antara pria dan wanita yang tidak berhubungan diperbolehkan karena itu tidak bermasalah dalam kebiasaan Indonesia.

Diantara pendapat yang diajukan oleh Sjadzali adalah bahwa, bertentangan dengan pendapat tradisional para ahli hukum Islam tentang pembagian warisan, di mana laki-laki mendapatkan dua kali lipat dibandingkan dengan perempuan, perempuan Indonesia mungkin mendapatkan jatah yang sama dengan laki-laki.

Profesor tersebut mendasarkan argumennya pada pengalaman di Pasar Klewer yang ikonik di Surakarta, dimana sebagian besar pedagang adalah perempuan sementara suami mereka menganggur.  Oleh karena itu, jika Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang memperhitungkan adat istiadat Indonesia setempat dalam membentuk fiqhnya.

Gagasan ini sebenarnya juga merupakan kelanjutan dari konsep pribumisasi Islam yang diajukan oleh mantan pemimpin NU (dan presiden Indonesia keempat) Abdurrahman Wahid dan dilanjutkan oleh penggantinya, Hasyim Muzadi.

Pribumisasi Islam adalah bentuk perlawanan terhadap Islam transnasional, yang dianggap sebagai produk impor, kurang cocok untuk budaya Indonesia. Gagasan ini dikembangkan lebih lanjut oleh ketua NU Said Aqil Siradj sebagai Islam Nusantara.

Meskipun konsep ini diuraikan relatif baru-baru ini, konsep Islam ini memiliki akar teoretis dalam gagasan mantan Menteri Dalam Negeri tentang sekolah pemikiran (mazhab) nasional, dan konsep fiqh Indonesia tentang fiqh Indonesia milik Profesor Hasbi As-Shiddieqy, yang keduanya telah dijelaskan beberapa dekade sebelumnya.

Sejarah Perkembangan

Untuk mewujudkan Islam Nusantara itu tidak mudah. Di era Orde Lama konsep ini ditantang oleh munculnya DI / TII yang berupaya menegakkan hukum Islam dengan gerakan baru yang muncul dari keberadaan bangsa Islam.

Saat ini, gerakan Islam yang baru muncul seperti Wahabi, HTI dan lainnya di Indonesia menimbulkan kehebohan sehingga indikasi keterlibatan terorisme dalam kelompok-kelompok ini. Dampaknya menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam bahwa gagasan ini mengakibatkan konflik yang semakin terkikis.

Banyak orang menilai sebenarnya penyebar ideologi kelompok transnasional di Indonesia bukanlah orang yang memahami sejarah Islam di Indonesia yang benar, karena sifat Islam di Indonesia dan Islam di Timur Tengah adalah dua hal yang berbeda di mana pengaruh, ajaran dan sejarah Islam yang lahir di Indonesia dan Timur Tengah.

Sejarah hadirnya Islam Nusantara ini dilatarbelakangi pada era formatif yurisprudensi Islam (fiqh) atau di era Abbasiyah awal. Ada  ahlul hadits di Hijaz yang menekankan tradisi hidup dikenal juga sebagai fiqh-Hijazi).

Ada juga ahlul ra’yi atau kaum rasionalis di Irak yang menekankan penggunaan penalaran independen dan maslahat atau barang umum (dikenal juga sebagai fiqh Irak). Kaum tradisionalis dan rasionalis telah menyebabkan lahirnya dua dari empat mazhab fiqh Sunni utama: Hanafiyyah di Irak dan Malikiyyah di Hijaz.

Kasus ini mencerminkan bagaimana konteks yang berbeda mengarah pada interpretasi yang berbeda dalam sejarah awal Islam. Perbedaan mereka bahkan pada tingkat epistemologis – inilah mengapa mereka disebut madzhab.

Hal itulah yang membentuk contoh tandingan bagi mereka yang berpendapat bahwa hanya ada satu Islam dan yang menambahkan atribusi setelah kata “Islam” dengan demikian menyiratkan bahwa Islam itu sendiri belum cukup sehingga perlu diubah sesuai dengan lingkungan sekitarnya. keadaan.

Faktanya, dari sejarah awalnya, konsep Islam ini selalu disesuaikan dengan tempat dan waktu di mana ia duduk. Dengan tempat yang berbeda, Anda akan memiliki wajah Islam yang berbeda. Sekarang, apakah Islam di Nusantara memiliki metode penafsiran yang berbeda dari daerah lain? Tentu tidak, setidaknya dilihat dari arus utama. Konsep Islam satu ini tidak membawa cara penafsiran baru.

Islam dipahami sepenuhnya bahkan dalam terang tradisi hukum Islam, dan, sekali lagi, bukan hal baru. Aspek baru hanyalah nama. Gagasan yang mendasari Islam Indonesia atau Nusantara sama dengan Islam di wilayah lain adalah karena Islam berinteraksi dengan budaya lokal.

Baca Juga: Wali Songo – Biografi dan Sejarah Penyebaran Islam di Tanah Jawa

Pro-Kontra Islam Nusantara

Konsep Islam Nusantara sendiri memang sering sekali mendapatkan pro dan kontra. Pihak kontra selalu menyatakan pendapat bahwa konsep ini berusaha untuk melegitimasi praktik budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam, sementara untuk yang pro mengatakan bahwa gagasan itu adalah Islam inklusif yang toleran terhadap budaya lokal.

Misalnya, pihak kontra memandang tradisi Kejawen (tradisi Jawa yang memasukkan unsur-unsur Islam, animisme, Hindu, dan Budha) adalah tradisi yang menyimpang, sementara pihak pro melihatnya sebagai contoh praktik budaya Indonesia yang kaya dan layak dihargai.

Sementara dari pihak kontra kemudian berpendapat bahwa jika budaya telah memasuki bidang kepercayaan (akidah) maka itu tidak ada kompromi. Adapun untuk yang pro percaya bahwa gagasan Islam ini beroperasi lebih dalam bidang fiqh, atau yurisprudensi Islam, yang bisa lebih fleksibel.

Jadi kedua kelompok menemui jalan buntu, pihak yang kontra akan selalu menentang dan mengatakan gagasan Islam ini sebagai sebuah pemahaman yang cacat. Kemudian untuk yang [ro akan mengatakan bahwa gagasan ini sangat mudah untuk memahami Islam dengan budaya masing-masing.

Mengenalkan gagasan Islam satu ini sering disalahpahami sebagai memasukkan budaya Indonesia ke dunia Arab. Tentu saja ini tidak mungkin karena konteks sejarah, politik, dan sosiokultural dari Indonesia dan Arab Saudi tersebut sangat berbeda.

Namun, Islam Nusantara dapat berperan dalam mempromosikan metode, atau manhaj, dari Islam yang mengakomodasi budaya lokal. Pendekatan semacam itu memiliki sedikit harapan untuk menembus dunia Arab juga, karena hampir tidak mungkin untuk memisahkan budaya Arab dari praktik-praktik Islam sehari-hari di wilayah tersebut.

Sumber :

  • https://panutanmuslim.wordpress.com/
  • https://www.nu.or.id/
  • gambar: wikipedia
Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

One Reply to “Islam Nusantara – Pendiri, Sejarah, dan Kontroversinya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *