fbpx

Jasa Nikah Siri Magelang

Silahkan Baca Dulu Keterangan di Bawah Ini Sebelum Bertanya Tentang Jasa Nikah Siri Magelang.

Bagian ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh orang yang ingin menggunakan Jasa Nikah Siri Magelang Silahkan baca terlebih dahulu sebelum menghubungi kami. Pernikahan akan dipenghului oleh Ust. Amaludin.

Apakah Anda sedang mencari informasi mengenai Jasa Nikah Siri Magelang, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri? Selamat, Anda berada di tempat yang tepat. Tulisan ini akan membahas tentang informasi ini secara lengkap. Melayani semua wilayah di Magelang.

Daftar Isi Tulisan

Dasar-Dasar

Tulisan bertujuan murni sebagai informasi dan pengetahuan belaka, kami tidak pernah menyarankan atau memaksakan Anda menyetujui pendapat tulisan ini atau menggunakan Jasa Nikah Siri Magelang.

Perlu digaris bawahi bahwa sebaik-baiknya pernikahan adalah pernikahan yang dilakukan bersama KUA

Sebelumnya saya mengingatkan kepada para pembaca untuk mari kita jauhi Zina, seperti dalam Al Qur’an:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra; 32)

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Ada 3 Cara untuk mengentikan Zina :

  • Adalah berpuasa.
  • Memiliki Rasa Takut akan dosa dan azdab
  • Menikah atau menikahi pasanga anda..

Oke, mari kita mulai dengan membahas mengenai nikah sirri itu sendiri, sebenarnya apa sih nikah siri itu?

Pengertian Nikah Siri

Nikah siri adalah sebuah pernikahan yang dilakukan tanpa proses pencatatan di Kantor Urusan Agama (KUA) atau sering disebut juga dengan nikah di bawah tangan. Artinya pernikahan ini hanya berfokus pada pengesahan secara Agama saja. TIDAK MENDAPAT buku nikah. Namun secara etimologi kata ‘sirri’ sendiri dalam bahasa Arab berarti Rahasia.

Latar Belakang Nikah Siri

Ada banyak hal yang dapat melatarbelakangi seseorang melakukan nikah siri, beberapa hal yang terjadi di masyarakat. Misalnya, seseorang yang masih menunggu proses pengurusan administrasi KUA, agar menghindari zinah maka dilakukanlah nikah sirri. Mempelai pria dan wanita masih dalam bangku kuliah dan ingin menyelesaikan perkuliahannya terlebih dahulu. Seorang pria yang terhalang memiliki keturunan, lalu ingin mendapatkan keturunan dari pasangan yang baru. 

Masih banyak hal yang dapat melatarbelakangi keputusan seseorang untuk memutuskan melakukan hal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihu wasallam bersabda:

ثَلاثَةٌ يَا عَلِيُّ لاَ تُؤَخِّرْهُنَّ : الصَّلاةُ إِذَا أَتَتْ ، وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ ، وَالأَيِّمُ إِذَا وَجَدَتْ كُفُؤًا

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni :

  • shalat jika telah tiba waktunya, 
  • jenazah apabila telah hadir (Segera Dimaiamkan)
  • dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu” ( segera Menikah)

(HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan)

Hukum Nikah Siri

Di bawah ini adalah rangkuman sumber yang didapat oleh Jasa Nikah Siri Magelang. Selamat membaca:

1. Menurut Agama Islam

Beberapa Mazhab tidak menyetujui fenomena nikah sirri ini. Namun dalam Mazhab Hambali, nikah sirri dibolehkan apabila dilangsungkan menurut ketentuan syariat Islam. Meskipun hal ini dirahasiakan oleh kedua mempelai, wali dan para saksinya harus sesuai dengan ketentuannya. Hanya saja ini hukumnya makruh. Namun jika hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari perbuatan Zina, Insha Allah lebih baik.

2. Menurut Undang-Undang

Pasal 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut Hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam UU Perkawinan No.1 Tahun 1974,Pasal 1 merumuskan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 2 UU Perkawinan

  1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
  2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pernikahan yang telah dilakukan masih bisa dicatat dalam KUA, dengan melakukan pengajuan sidang istbat ke Pengadilan Agama setempat. Hal ini berdasar pada Pasal 7 KHI, yang berbunyi:

  1. Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.
  2. Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akat Nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama.
  3. Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:
    1. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;
    2. Hilangnya Akta Nikah;
    3. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan;
    4. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang No.1 Tahun 1974 dan;
    5. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974;
  4. Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.

Sumber:

 

Cara Nikah Siri Agama Islam

Cara Nikah Siri dengan menikah biasa pada dasarnya sama persis, bersumber pada satu hal yaitu hukum Islam itu sendiri. Perbedaannya hanya pada saat proses pencatatan di KUA sebagai buku nikah.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَٰجَهُنَّ إِذَا تَرَٰضَوْا۟ بَيْنَهُم بِٱلْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ مِنكُمْ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al Baqarah: 232)

Menurt Mahzab Hanafi, janda bisa menikahkan dirinya sendiri. Syaratnya wali tidak bisa hadir atau wali tidak menyetujui pernikahan tersebut dengan alasan tidak syar’i. Contohnya: tidak setuju karena beda suku, tidak setuju karena status pekerjaan, tidak setuju karena jumlah harta dan sebagainya.

Syarat Nikah Siri Agama Islam

Syarat nikah siri dan syarat nikah KUA pada dasarnya sama saja. Semua harus mengikuti rukun pernikahan menurut agama islam. Apa saja rukun pernikahan dalam islam?

Dikutip dari Imam Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj al-Thalab (Beirut: Dar al-Fikr), juz II, hal. 41, rukun nikah dalam islam ada 5, yaitu:

  1. Mempelai Pria
  2. Mempelai Wanita
  3. Wali / Wali Hakim
  4. Dua Saksi (Laki-Laki Muslim Baligh)
  5. Shighat (Ijab dan Qabul)

Sumber: Klik Disini!

Bisakah Tanpa Wali? Jasa Nikah Siri Magelang

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan.

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Akan tetapi jika perempuan tersebut bodoh, maka harus dinikahkan oleh walinya. Batasan pandai di sini tidak membedakan perawan maupun janda.

Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng.

Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab. 

Nikah adalah suatu akad atas manfaat alat kelamin dengan syarat dan rukun tertentu. Rukun nikah antara lain suami, istri, wali, shighat yaitu ijab dan qabul, dan dua orang saksi. Syarat-syarat seorang wali: islam, laki-laki baligh, merdeka, adil, berakal, dalam keadaan ihtiyar, tidak dalam keadaan ihram atau mahjur. Ayah, Kakek, Saudara laki-laki kandung, Saudara laki- laki seayah, Anak laki-laki saudara laki-laki kandung, Anak laki-laki saudara laki-laki seayah, Paman kandung (saudara laki-laki kandung ayah), Paman seayah (saudara laki-laki seayah dari pihak ayah), Anak laki-laki dari pihak paman, al-Maula. Hakim. Hukum pernikahan tanpa wali tersebut para ulama sependapat tidak sah, kecuali Hanafiyah.

Begini Wali Menurut Ulama Hanâfiyah

Tulisan mengenai wali oleh Jasa Nikah Siri Magelang didapat dari berbagai sumber. Silahkan klik sumbernya, sehingga dapat membaca lebih lengkap.

1. Syarat-syarat Wali

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

a. Beragama Islam

Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam (Muslim) disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah:

(Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). 

(At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

b. Baligh

Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi:

Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).

c. Berakal sehat

Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.

d. Merdeka

Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.

Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.

Menurut Abû Hanifah bagi wali yang penting bukanlah laki-laki dan ketaatannya menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan agama, akan tetapi kepandaiannya memilihkan jodoh yang tepat bagi perempuan yang di bawah perwaliannya. Mengetahui akan kemaslahatan dan tidak quratel.

Menurut ulama Hanafiyah seorang perempuan yang dewasa dan berakal boleh menjadi wali, bahkan bagi dirinya atau orang lain. Menurut ulama Hanafiyah sah suatu perkawinan yamg walinya seorang wanita dan bahkan masyhur dikalangan Hanafiyah seorang wanita yang menikahkan dirinya sendiri. Alasannya hadis nabi dari dari Ibn Abbas ra.

Orang-orang yang tidak mempunyai jodoh lebih berhak atas (perkawinan). Dirinya dan gadis itu dimintakan perintah agar ia dikawinkan kepadanya dan tanpa izinnya ialah diamnya. (H.r. Bukhari dan Muslim).

Ulama Hanâfiyah tidak mensyaratkan seorang wali itu adil, karena beliau berpendapat bahwa hadis Ibn Abbas di atas adalah hadis dha’if. Seseorang yang fasik dapat menjadi wali karena dengan kefasikan seseorang tidak akan mengurangi rasa kasih sayang dan menjaga kemaslahatan bagi kerabatnya.

2. Wali dan Urutannya

Menurut ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu.

Ulama Hanafiyah memberikan alasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan  dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alas an membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.

Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.

3. Kedudukan wali

Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah.

Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mitsl. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu itu atau mengajukan permohonan fasakh kepada hakim.

Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34

Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:

a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.

b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya.

Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.

c. Hadis Rasul

Perempuan janda lebih berhak terhadap dirinya dari pada wali dan anak gadis diminta izinnya mengenai dirinya, sedangkan izinna diamnya. (H.R. Muslim)

Dalam Hadis tersebut terdapat kata menrutut ulama Hanafiyah adalah perempuan yang tidak memiliki suami baik itu masih gadis atau sudah janda. Wanita yang sudah dewasa diberikan hak sepenuhnya mengenai dirinya dengan meniadakan campur tangan orang lain (wali) dalam urusan perkawinan. Dengan demikian seorang perempuan yang sudah dewasa tidak membutuhkan wali dalam melaksanakan akad perkawinan karena dirinya berhak untuk menikahkan dirinya sendiri.38

d. Wanita yang sudah dewasa memiliki hak untuk melakukan transaksi (ahliyah al-ada’) dalam semua taransaksi (akad) kebendaan. 

Ulama hanafiyah mengqiyaskan hak bertransaksi dalam bidang perkawinan pada masalah kebendaan, karena itu wanita yang sudah dewasa dapat melakukakan transaksi (akad) dalam perkawinan.

Sumber: 

Penghulu Jasa Nikah Siri Magelang

Pada dasarnya, banyak yang bisa menjadi penghulu nikah. Orang-orang dengan landasan agama dan hukum pernikahan yang mumpuni bisa menikahkan orang lain, dan itu boleh. Namun untuk lebih mudahnya, memang kebanyakan orang membayar Jasa Nikah Siri Magelang.

Surat Nikah Siri Magelang

Apakah ada surat nikah siri? Apakah berlaku dalam masyarakat? 

Surat nikah siri adalah surat yang diberikan oleh penghulu pelaksana sebagai bukti kepada masyarakat bahwa dua orang tersebut telah melakukan pernikahan. Biasanya surat nikah siri ini ditandatangani oleh Penghulu, Wali, Mempelai Pria dan Wanita, Serta dua orang saksi yang mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Tidak ada satu orangpun yang BERHAK memberikan buku nikah, kecuali KUA. Barang siapa menjanjikan buku nikah dalam proses pelaksanaan nikah siri maka jelas bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Pasal 37 mengenai Memberikan Keterangan Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat Atau Dokumen Palsu, Memalsukan Surat atau Dokumen.

Bisakah Nikah Siri Beda Agama?

Hukum pernikahan beda agama adalah sesuatu yang sangat rumit. Banyak terjadi perbedaan pendapat tentang hal ini di kalangan para ulama. Kami, Jasa Nikah Siri Magelang TIDAK MELAYANI pernikahan beda agama!. Jika tertarik untuk membaca dasar-dasarnya, maka silahkan lanjutkan membaca lebih lanjut.

Menurut Agama

Al-Quran menjelaskan Dalam surat Al-Baqarah 221 Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Surat Al-Baqarah Ayat 221)

Surat Al-Maidah ayat 5 Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Al-Maaidah Ayat 5)

Pada surat Al-Baqarah ayat 221 terang di jelaskan bahwa: Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki larangan untuk menikahi atau dinikahkan oleh seorang musyrik.. dan dalam surat Al-Maidah di jelaskan kembali bagi seorang laki-laki, boleh menikahi AHLI KITAB. Namun terdapat beberapa pendapat bahwa ahli kitab di sini bukanlah  penganut injil,ataupun taurat yang ada pada saat ini. Ahli kitab yang dimaksudkan disini ialah mereka yang bersyahadat Mengakui adanya ALLAH  akan tetapi tidak mengakui adanya Muhammad.

Menurut Undang-undang Negara

Perkawinan di Indonesia diatur oleh UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan UU tersebut perkawinan di definisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karenanya dalam UU yang sama diatur bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu serta telah dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pendapat Para Tokoh

Seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Daud Ali (alm.) menjelaskan dalam bukunya yang bejudul “Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda“.Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum perkawinan yang benar menurut hukum agama dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di tanah air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun merupakan kenyataan dalam masyarakat, tidak perlu dibuat peraturan tersendiri, tidak perlu dilindungi oleh negara. Memberi perlindungan hukum pada warga negara yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum bangsa dan kaidah fundamental negara serta hukum agama yang berlaku di Indonesia, pada pendapat saya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.

Prof. HM Rasjidi, menteri agama pertama RI, dalam artikelnya di Harian Abadi edisi 20 Agustus 1973, menyorot secara tajam RUU Perkawinan yang dalam pasal 10 ayat (2) disebutkan: “Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.

Pasal dalam RUU tersebut jelas ingin mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang menyatakan: “Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian.”

Khusus tentang pasal 16 tersebut, Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam: “Oleh sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan hukum syariat Islam yang jelas nyata itu. lalu pindah bergantung kepada “Hak-hak Asasi Manusia” yang disahkan di Muktamar San Francisco, oleh sebagian anggota yang membuat “Hak-hak Asasi” sendiri karena jaminan itu tidak ada dalam agama yang mereka peluk.

Pendapat berbeda disampaikan pengajar hukum Islam di UI Farida Prihatini. Farida menegaskan bahwa MUI melarang perkawinan beda agama. Pada prinsipnya, bukan hanya agama Islam. “Semua agama tidak memperbolehkan kawin beda agama. Umatnya saja yang mencari peluang-peluang. Perkawinannya dianggap tidak sah, dianggap tidak ada perkwianan, tidak ada waris, anaknya juga ikut hubungan hukum dengan ibunya. Farida jg menilai Pemerintah tidak tegas. Meskipun UU tidak memperbolehkan kawin beda agama, tetapi Kantor Catatan Sipil bisa menerima pencatatan perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri.

Sumber:

Risiko Jasa Nikah Siri Magelang

Sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa nikah siri, sebaiknya mempertimbangkan segala risiko. Nikah sirri adalah nikah yang tidak tercatat dalam catatan sipil, tentu hal ini memiliki banyak sekali kelemahan di dalamnya. Beberapa kelemahan tersebut diantaranya:

  • Pengurusan Birokrasi yang Rumit saat Punya Anak, hal ini bisa diatasi dengan jalur Itsbat di pengadilan agama, seperti yang tertulis di atas.
  • Penuntutan ahli waris, gono gini, hak asuh anak dan sebagainya tidak dapat dilakukan secara hukum.
  • Pengajuan gugatan cerai oleh wanita lebih sulit dilakukan, silahkan pelajari sendiri hukumnya secara agama.

Tapi kembali lagi, seperti di awal. Segala hal dan keputusan yang diambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu. Apabila ditujukan untuk meningkatkan ketaqwaan dan menjauhi zina, InsyaAllah akan lebih baik kedepannya. Di bawah ini, adalah informasi jasa nikah siri yang berada di berbagai tempat di Indonesia.

Biaya Jasa Nikah Siri Magelang

Biaya nikah siri biasanya bervariasi antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada patokan pasti yang dapat menentukan berapa besar biaya tersebut. Untuk biaya Nikah Siri di Magelang biasanya adalah sekitar Rp. 1.900.000,- an.

Jasa Nikah Siri Magelang, Perlukah?

Menikah siri, jika dilakukan diharapkan akan lebih membawa kebaikan daripada BERZINA. Zina termasuk salah satu Dosa Besar yang dilarang Allah. Perzinaan dapat menjauhkan anda dari keberkahan hidup, menjauhkan dari rizki. Solusi yang paling tepat untuk menghindari dosa besar tersebut adalah dengan melakukan pernikahan.

QS An-Nur 24:2:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing 100 kali, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.

Cara Pendaftaran Nikah Siri

Syarat yang harus disiapkan untuk cetak surat (PRIVASI TERJAGA):

  1. KTP (Difoto saja, dikirimkan ke Whatsapp Kami atau Melalui Tombol di paling bawah halaman ini).
  2. Menyebutkan Nama Ayah Kandung Masing-masing.
  3. Tentukan Jadwal Nikah (Tanggal).
  4. Membawa Materai 4 Buah.
  5. Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 (masing-masing 2 lembar).
  6. Membawa 2 Orang Saksi (Bisa Dari Kami)

Alamat Tempat Nikah Siri Magelang

Janji Temu Alamat Jasa Nikah Siri Magelang Kami pusatkan di satu tempat atau Anda dapat mengundang kemi ke rumah, hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di daerah Magelang.

Mohon Tidak DADAKAN!

(Lengkapnya Lewat Whatsapp)

Untuk Menghubungi Jasa Nikah Siri Magelang, Silahkan Menghubungi Asisten. Klik Tombol di Bawah Ini: