Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

Kisah Nabi Nuh

3 min read

kisah nabi nuh

Nabi Nuh adalah utusan Allah ketiga yang terkenal dengan kisah banjirnya yang begitu hebat melanda kaum dan menewaskan anak kandunganya sendiri, Kan’an. Ada banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh ini seperti kesabarannya dalam berdakwah meski telah diabaikan hingga akhirnya datanglah mukjizat Allah untuk membuktikan apa yang diucapkan Nabi Nuh adalah benar.

Seperti apakah kisah Nabi Nuh dengan kapalnya yang mampu menyelamatkannya dari banjir bandang? Dan apa saja hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini?

Profil Nabi Nuh

Dia adalah Nuh bin Lamik bin Mitoshilkh bin Henokh Yard bin Mahlabil bin Qinan bin Anoush ibn Syith ibn ‘Adam, bapak umat manusia’ alaihis-salam. Dalam alquran dijelaskan bahwa periode antara kelahiran Nuh dan kematian Adam adalah 146 tahun.

Nuh dilahirkan seratus dua puluh enam tahun setelah kematian Nabi Adam. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’ alaihi wa sallam berkata, “Periode antara ‘Adam dan Nuh adalah sepuluh abad. “[Sahih Al-Bukhari].

Nuh lahir 1056 tahun setelah penciptaan Adam (atau setelah Adam meninggalkan surga. Selama beberapa generasi umat Nabi Nuh telah menyembah patung yang mereka sebut berhala. Umatnya percaya bahwa para dewa ini akan membawakan mereka kebaikan, melindungi mereka dari kejahatan dan menyediakan semua kebutuhan mereka.

Mereka memberi nama sembahan mereka seperti Waddan, Suwa’an, Yaghuthah, Ya’augah, dan Nasran. Berhala-berhala ini mewakili, masing-masing, kekuatan dan sifat yang berubah-ubah, keindahan; kekuatan kasar, kecepatan, pandangan tajam, wawasan sesuai dengan kekuatan yang mereka pikir dimiliki oleh para berhala ini.

Awalnya nama-nama yang diberikan kepada patung tersebut adalah nama-nama orang baik yang pernah tinggal di antara mereka. Setelah kematian mereka, dibuatlah berbagai patung-patung untuk menjaga ingatan mereka tetap hidup. Namun, setelah beberapa waktu, orang-orang mulai menyembah patung-patung ini.

 Generasi-generasi setelahnya pun bahkan tidak tahu mengapa patung itu ada, mereka hanya tahu orang tua mereka telah berdoa kepada patung-patung tersebut dan itulah bagaimana penyembahan berhala berkembang. Generasi ini tidak memiliki pemahaman tentang Allah Swt yang akan menghukum mereka karena perbuatan jahat mereka menyembah selain Allah.

Kaum-kaum ini menjadi kejam dan tidak bermoral.Nabi Nuh sendiri adalah karakter penting dalam tradisi Islam dan belaiu diutus oleh Allah untuk menyadarkan kaum yang telah tersesat itu. Periode waktu yang tepat ketika Nabi Nuh hidup tidak diketahui, berdasarkan sumber sejarah menyatakan bahwa Nuh berumur 950 tahun.

Dipercayai bahwa Nabi Nuh dan kaumnya tinggal di bagian utara Mesopotamia kuno  daerah kering dan gersang, beberapa ratus kilometer dari laut. Al-Qur’an menyebutkan bahwa bahtera mendarat di “Gunung yang diyakini banyak orang Muslim adalah Turki masa kini. Nabi Nuh sendiri sudah menikah dan memiliki empat putra.

Baca juga: Silsilah Nabi dan Rasul

Nabi Nuh dan Kaumnya yang Penyembah Patung

Menurut tradisi, kisah Nabi Nuh dimulai dengan hidup di antara orang-orang yang penyembah berhala batu, dalam masyarakat yang jahat dan korup. Nuh dipanggil sebagai Nabi untuk umatnya, dan ia diutus oleh Allah untuk menyampaikan  pesan Allah Swt. agar kaumnya yang penyembah berhala itu percaya hanya pada satu Tuhan sejati dan itu adalah Allah Swt. Nabi Nuh berharap bahwa kaumnya mau mengikuti segala pesan yang telah Allah berikan. Nabi Nuhpun meminta kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala mereka dan bertaubat. Nabi Nuh pun selalu sabar berdakwah menyampaikan pesan Allah ini dengan sabar dan baik hati selama bertahun-tahun.

Seperti yang terjadi pada begitu banyak nabi Allah, orang-orang menolak pesan Nabi Nuh dan mengejeknya sebagai pembohong dan gila.

Dijelaskan dalam Al-Quran bagaimana orang-orang menyorongkan jari-jari mereka ke telinga mereka agar tidak mendengar suaranya, dan ketika Nabi Nuh terus berkhotbah kepada mereka menggunakan tanda-tanda, mereka kemudian menutupi diri mereka dengan pakaian mereka sehingga bahkan tidak melihatnya.

Namun, satu-satunya hal yang membuat Nabi Nuh bertahan adalah keinginannya yang kuat untuk membantu kaumnya yang tersesat dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai utusan Allah. Di bawah cobaan ini, Nuh meminta kekuatan dan pertolongan kepada Allah, karena bahkan setelah bertahun-tahun berkhotbah, orang-orang telah jatuh lebih dalam ke dalam kekafiran.

Allah memberi tahu Nuh bahwa orang-orang telah melampaui batas mereka dan akan dihukum sebagai contoh bagi generasi mendatang. Allah mengilhami Nuh untuk membangun sebuah kapal, yang harus ia selesaikan meskipun sangat sulit. Saat membuat kapal yang besar, Nabi Nuh diejek oleh banyak orang dan ia dianggap gila oleh kaumny,a

Setelah kapal itu selesai, Nabi Nuh kemudian mengajak keluarganya dan orang-orang yang telah beriman kepada Allah Swt. Setelah itu tanah di daerah itu basah kuyup oleh hujan dan banjir kemudian menghancurkan semua yang ada di darat.

Saat banjir melanda, Nabi Nuh menyaksikan puteranya Kan’an yang tenggelam. Nabi Nuh mengajak Kanan untuk naik ke atas kapal asalkan anaknya tersebut mau bertaubat, namun Kan’an tetap kukuh tidak ingin beriman hingga akhirnya Kan’an tewas terendam banjir bandang tersebut.

Nabi Nuh dan para pengikutnya kemudian selamat, tetapi salah satu putranya berada di antara orang-orang kafir yang dihancurkan. Dari situ mengajarkan umat Islam bahwa iman kepada Allah jauh lebih penting dari ikatan darah.

Hikmah Kisah Nabi Nuh

Apa yang bisa dipetik dari kisah yang telah dijelaskan di atas? Setidaknya ada 3 pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh di atas, di antaranya adalah :

Belajarlah untuk tetap sabar

Selain itu, hikmah yang bisa didapat adalah kesabaran Nabi Nuh yang diolok-olok dengan cercaan yang menyakitkan terhadapnya saat membuat kapal. Nabi Nuh menghadapi olokan dan cercaan itu dengan sabar dan lapang dada karena ia yakin Allah yang akan membalasnya.

Berimanlah kepada Allah Apapun Keadannya

Terlepas dari cemoohan dan olokan yang ia terima, Nabi Nuh tetap beriman kepada Allah. ia mempercayai arahan yang ia terima dari Tuhan untuk membangun perahu meski ia dikatakan gila. Nuh tetap beriman kepada Allah dan selalu memercayai petunjuk Allah dan ternyata dengan keimanan tersebut, Nabi Nuh terselamatkan dari banjir bandang yang menewaskan hampir seluruh kaum Nabi Nuh yang kafir.

Ketika Nuh memutuskan untuk membangun bahtera, akan mudah untuk menganggap idenya bodoh. Pada saat itu, banjir di seluruh dunia sepertinya tidak masuk akal. Tapi ada satu alasan di atas segalanya untuk mempercayai Nuh  dia adalah nabi pilihan Tuhan. Percaya kepada utusan Allah adalah hal yang juga wajib untuk diimani.

Perilaku yang jahat akan menambat balasan

Orang-orang di bumi selama kehidupan Nabi Nuh menjalani kehidupan yang jahat dan penuh kekerasan. Orang-orang tersebut selalu mengabaikan peringatan Allah dan memilih untuk hidup dengan cara mereka sendiri. Atas ketidak imanan mereka inilah, akhirnya mereka tersapu oleh banjir yang telah dikirim oleh Allah.

Gaya hidup di dunia atau material yang dimiliki tidak akan menyelamatkan manusia yang kafir dari badai yang menimpa dalam hidup.

Tentu dari kisah Nabi Nuh ada banyak hikmah yang bisa dipetik dalam-dalam. Meyakini nabi sebagai utusan Allah Swt sama halnya dengan mengimani Allah Swt karena nabi juga menyampaikan pesan dari Allah Swt.

Sumber Kisah Nabi Nuh:

  • Sejarah Hidup Nabi-Nabi (Qashahul Anbiya’), H. Salim Bahrein, PT Bina Ilmu : Surabaya, 2007.
  • Misteri Banjir dan Perahu Nuh, Nuni Yusvavera Syatra, Bening : Yogyakarta, 2010.
  • Gambar: https://alif.id/
Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

One Reply to “Kisah Nabi Nuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *