Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

Sejarah Haji dan Umroh (Bagian 3)

7 min read

Sejarah Umroh dan Haji - Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah – Kalimat talbiah (Labbaika Allahumma labbaik) dalam sejarah haji dan umroh telah diselewengkan oleh mereka dengan beberapa kalimat tambahan yang jauh berbeda maknanya. Yang paling parah, darah hewan kurban dituangkan ke dinding-dinding Ka’bah dan dagingnya digantungkan di tiang sekitar Ka’bah. Mereka memiliki keyakinan bahwa Allah menuntut daging & darah tersebut. Kemudian Allah Swt mengingatkan dengan firman-Nya dalam Al Qur’an:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

(QS. Al-Hajj : 37)

Saat itu para peziarah bebas bernyanyi, minum khamr, berzina, dan perbuatan keji lainnya. Perlombaan puisi menjadi bagian utama dari seluruh rangkaian ibadah haji. Dalam kompetisi ini, seorang penyair akan memuji keberanian & kemegahan sukunya. Mereka menyampaikan cerita-cerita yang berlebihan, kepengecutan & kekikiran suku lainnya. Beberapa juga berkompetisi dalam “kemurahan hati”. Setiap kepala suku akan menyediakan kuali besar dan menyuguhhkan makanan untuk para peziarah. Tujuannya tidak lain agar bisa menjadi terkenal karena kemurahan hati kepala suku tersebut.

Sungguh, mereka telah meninggalkan, menodai, & menyelewengkan ajaran suci Nabi Ibrahim as yang telah mengajak mereka untuk menyembah Allah semata. Keadaan kacau tersebut berlangsung selama kurang lebih 2000tahun. Namun setelah periode panjang ini, Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as yang tercantum dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

(QS. Al-Baqarah : 129)

Nabi Muhammad saw bukan hanya membersihkan seluruh bagian Ka’bah dari segala kotoran, tetapi beliau juga mengembalikan kemurnian Ibadah Haji seperti sedia kala sesuai tuntunan Allah sejak zaman Nabi Ibrahim as. Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw sebagai jawaban atas doanya tersebut. Selama 23tahun, Nabi Muhammad saw menyebarkan pesan-pesan tauhid. Pesan yang sama seperti yang dibawakan oleh Nabi Ibrahim as & semua Nabi pendahulunya, untuk menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi.

Terdapat juga perintah khusus di dalam Al-Qur’an, semua ini diturunkan dalam rangka menghilangkan segala macam upacara palsu yang telah merajalela di masa sebelum Islam. Semua tindakan keji dan memalukan itu amat sangat dilarang oleh Allah Swt:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Musim Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh Rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan Haji.

(QS. Al-Baqarah: 197)

Rasulullah saw memerintahkan sahabat-sahabat yang mampu, terutama pada kaum Anshar (pribumi Madinah) yang tidak dikenali oleh masyarakat Mekkah, agar menunaikan Ibadah Haji yang sesuai dengan tata cara Nabi Ibrahim. Mereka tidak diperbolehkan mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Saat kembali setelah berhaji, kaum Anshar melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa mereka telah mengerjakan sa’i dengan keraguan. Di tengah-tengah Mas’a (jalur sa’i) antara Safa dan Marwa terdapat dua berhala besar Asaf dan Na’ilah. Oleh karena itu, Allah menurunkan wahyu Nya, yaitu:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Safa dan Marwa sebagian dari syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa berhaji ke Baitullah atau berkunjung (Umrah), tidak salah baginya untuk bolak-balik pada keduanya. Dan barangsiapa menambah kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pembalas Syukur lagi Maha Mengetahui”

(QS. Al-Baqarah: 158)

Ayat inilah yang sekarang sering dibaca oleh para jemaah Haji ketika melakukan sa’i.

Pada April 628 M (Zulkaidah 6 H) Rasulullah Saw mendapat mimpi menunaikan ibadah umrah (kunjungan) ke Mekkah. Beliau lalu mengajak para sahabat untuk mewujudkan mimpinya tersebut. Rasulullah disertai 1.500 sahabat berangkat menuju Mekkah, mereka semua mengenakan pakaian ihram & membawa hewan-hewan kurban.

Saat itu kaum musyrikin Quraisy mengerahkan pasukan mereka dengan tujuan untuk menghalangi, akhirnya rombongan dari Madinah tertahan di Hudaibiyah, tempat yang berjarak sekitar 20 km di sebelah barat laut Mekkah.

Kaum Quraisy mengirimkan utusan Suhail ibn Amr untuk berunding dengan Rasulullah saw. Suhail mengusulkan beberapa hal, antara lain, kesepakatan untuk gencatan senjata dan kaum Muslimin saat itu harus menunda umrah mereka dengan kembali ke Madinah. Tetapi tahun depan mereka diberi kebebasan melakukan umrah serta tinggal selama tiga hari di Mekkah. Rasulullah akhirnya menyetujui perjanjian ini, meskipun para sahabat banyak merasa sedikit kecewa, namun keputusan beliau memang lebih bijak agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Secara singkat isi perjanjian tersebut memang seolah merugikan kaum Muslimin, namun secara politis sebenarnya sangat menguntungkan.  “Perjanjian Hudaibiyah” menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan Islam, karena dengan ini untuk pertama kalinya para kaum Quraisy di Mekkah mengakui kedaulatan umat Muslim di Madinah.

Dalam perjalanan umat Muslim pulang ke Madinah, turunlah wahyu Allah:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh Allah akan memenuhi mimpi RasulNya dengan sebenar-benarnya, bahwa kamu pasti akan memasuki Masjid Al-Haram insyaAllah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (merampungkan umrah) dengan tidak merasa takut. Dia menegetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan Dia menjadikan selain itu kemenangan yang dekat”.

(Al-Fath 27)

Sesuai dengan isi Perjanjian Hidaibiyah, pada tahun berikutnya (bulan Maret 629 Masehi atau Zulkaidah 7 Hijriah) Rasulullah beserta para sahabat melakukan umrah ke Baitullah untuk pertama kalinya. Rombongan Rasulullah saw, sekitar 2.000 orang memasuki pelataran Ka’bah untuk melakukan tawaf, masyarakat Mekkah berkumpul untuk menonton di bukit Qubais, mereka berteriak bahwa kaum Muslimin kelihatan letih dan pasti tidak mungkin kuat berkeliling tujuh putaran. Saat mendengar ejekan ini, Rasulullah saw bersabda kepada jemaahnya,

Marilah kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita kuat. Bahu kanan kita terbuka dari kain ihram, dan kita lakukan tawaf dengan berlari!”

Sesudah mencium hajar Aswad, Rasulullah saw dan para sahabat melakukan tawaf dengan berlari-lari mengelilingi Ka’bah sehingga para pengejek akhirnya pergi meninggalkannya. Pada putaran keempat setelah orang-orang usil di atas bukit Qubais pergi, Rasulullah mengajak para sahabat berhenti berlari dan berjalan seperti biasanya. Inilah latar belakang beberapa sunnah tawaf di kemudian hari: bahu kanan yang terbuka (idthiba’) serta berlari-lari kecil pata tiga putaran pertama khusus pada tawaf yang pertama.

Setelah tujuh putaran, Rasulullah saw shalat dua rakaat di Makam Ibrahim, kemudian minum air Zamzam. Sesudah itu Rasulullah melakukan sa’I antara Safa dan Marwa, dan akhirnya melakukan tahalul  (‘menghalalkan kembali’) atau membebaskan diri dari larangan-larangan ihram, dengan menyuruh Khirasy mencukur kepala beliau. Ketika masuk waktu zuhur, Rasulullah saw menyuruh Bilal bin Rabah naik kea tap Ka’bah untuk mengumandangkan azan.

Suara azan Bilal menggema ke segenap penjuru sehingga orang-orang Mekkah berkumpul ke arah “suara aneh” yang baru pertama kali mereka dengar. Kaum musyrikin menyaksikan betapa rapinya saf-saf kaum Muslimin yang sedang shalat berjamaah. Hari itu, 17 Zulkaidah 7 Hijriah (17 Maret 629M0, untuk pertama kalinya azan berkumandang di Mekkah dan Nabi Muhammad saw menjadi imam shalat di depan Ka’bah.

Sesuai dengan isi perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw dan para sahabat hanya tiga hari berada di Mekkah, kemudaian kembali ke Madinah. Tetapi, umrah tiga hari yang dilakukan kaum Muslimin di Mekkah menimbulkan kesan yang mendalam bagi orang-orang Quraisy. Tiga orang terkemuka Quraisy, yaitu Khalid ibn Walid, Amru ibn Ash, dan Utsman ibn Thalhah, menyusul ke Madinah untuk mengucapkan Kalimat Syahadat. Di kemudian hari, Khalid ibn Walid memimpin pasukan Islam membebaskan Suriah dan Palestina serta Amru bin Ash membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi. Utsman ibn Thalhah dan keturunannya kelak diberi kepercayaan oleh Rasul untuk memegang kunci Ka’bah.

Sampai hari ini, meskipun yang menguasai dan memelihara Ka’bah silih berganti hingga dinasti Saudi sekarang, kunci Ka’bah tetap dipegang oleh keturunan Utsman ibn Thalhah dari Bani Syaibah.

Beberapa bulan sesudah Rasulullah saw umrah, kaum Quraisy melanggar perjanjian gencatan senjata sehingga pada 20 Ramadhan 8 Hijriah (11 Januari 630M) Rasulullah Saw beserta sepuluh ribu pasukan menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah. Bahkan, Rasulullah Saw memberikan amnesti umum kepada warga Mekkah yang dahulu memusuhi Muslimin.

Tiada balas dendam bagimu hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang di antara para penyayang.

Demikian sabda Rasulullah saw  mengutip ucapan Nabi Yusuf as yang tercantum dalam surat Yusuf ayat 92. Akibatnya, seluruh kaum Quraisy masuk Islam. Kemudian turun surat An-Nasr:

  1. إِذَا جَاءَ نَصْرُ الَّهِ وَالْفَتْحُ
  2. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ الَّهِ أَفْوَاجًا
  3. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚإِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

(QS. An-Nasr 1-3)

Setelah menerima ayat ini, pada rukuk dan sujud dalam shalat Rasulullah Saw mengucapkan,

Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan pujian bagiMu. Ya Allah, ampunilah aku”.

Dengan jatuhnya kota Mekkah ke tangan umat Islam, Rasulullah saw memerintahkan pemusnahan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah. Dan membersihkan ibadah haji dari unsur-unsur kemusyrikan serta mengembalikannya kepada syariat Nabi Ibrahim yang asli.

Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah saw melakukan umrah dua kali, yaitu ketika menaklukkan Mekkah dan ketika beliau pulang dari Perang Hunain. Ditambah dengan umrah tahun sebelumnya berarti Rasulullah saw sempat melakukan umrah 3 kali, sebelum beliau mengerjakan ibadah haji tahun 10 Hijriah.

Pada bulan Zulhijah tahun ke-9 Hijriah (Maret 613M), Rasulullah saw mengutus sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin ibadah haji. Rasulullah sendiri tidak ikut karena beliau sibuk dalam menghadapi perang Tabuk melawan pasukan Romawi.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat perintah untuk mengumumkan dekrit yang baru saja diterima Rasulullah saw. Dekrit tersebut menyatakan mulai tahun depan kaum musyrikin dilarang mendekati Masjid al-Haram dan menunaikan Ibadah Haji karena sesungguhnya mereka bukanlah penganut ajaran Nabi Ibrahim as.

Dekrit itu dikeluarkan Rasulullah saw berdasarkan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa) karena itu janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang) maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

(QS. At Taubah : 28)

Pada tahun 10 Hijriah (632 Masehi) Semenanjung Arabia telah dipersatukan di bawah kekuasaan Nabi Muhammad Saw yang berpusat di Madinah, dan seluruh penduduk telah memeluk agama Islam. Maka pada bulan Syawal Rasulullah saw bahwa beliau sendiri akan memimpin ibadah haji tahun itu. Berita ini disambut hangat oleh seluruh umat dari segala penjuru sebab mereka berkesempatan mendampingi Rasulullah dan menyaksikan setiap langkah beliau dalam melakukan manasik (tata cara) haji.

Rasulullah saw berangkat dari Madinah sesudah shalat Jumat tanggal 25 zulkaidah (21 februari) mengendarai unta beliau yang bernama Al-Qashwa’, dengan diikuti sekira 30.000 jemaah. Seluruh istri beliau ikut serta dan juga putri beliau yang saat itu masih hidup, Fatimah. Sesampai di Dzulhulaifah yang hanya belasan kilometer dari Madinah, Rasul dan rombongan singgah untuk istirahat dan mempersiapkan ihram. Di sini istri Abu Bakar Shiddiq, Asma’, melahirkan putra yang diberi nama Muhammad. Abu Bakar berniat mengembalikannya ke Madinah. Tetapi Rasulullah mengatakan bahwa Asma’ cukup mandi bersuci, memakai pembalut yang rapi, dan dapat melakukan seluruh manasik haji. Muhammad ibn Abu Bakar yang lahir di Dzulhulaifah itu kelak menjadi Gubernur Mesir pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib (656-661M).

Keesokan harinya, Sabtu 26 zulkaidah (22 februari), setelah semuanya siap untuk berihram, Rasulullah saw menaiki unta kembali, lalu bersama seluruh Jemaah mengucapkan: Labbaik Allahumma Hajjan (Inilah saya, Ya Allah, untuk berhaji). Tidak ada seorang pun yang berniat umrah sebab menurut tradisi saat itu umrah hanya boleh di luar musim haji. Tiga cara haji (tamattu, Ifrad , Qiran) yang kita kenal sekarang baru diterapkan Rasulullah saw di Mekkah delapan hari berikutnya. Rombongan menuju Mekkah dengan tiada henti mengucapkan talbiyah. Pada hari Sabtu 3 Zulhijah (29 Februari), Rasul dan rombongan tiba di Sarif, 15 km di utara Mekkah, kemudian beristirahat. Aisyah , istri Nabi, kedatangan masa haidnya sehingga dia menangis karena khawatir tidak dapat menunaikan haji. Rasulullah saw menghiburnya ,

Sesungguhnya haid itu ketentuan Allah untuk putri-putri Adam. Segeralah mandi dan engkau dapat melakukan semua manasik haji, kecuali tawaf sampai engkau suci.

Pada Ahad 4 Zulhijah (1 Maret) pagi, Rasulullah dan rombongan memasuki kota Mekkah. Di sana sudah menunggu puluhan ribu umat yang datang dari berbagai penjuru, dan diperkirakan total Jemaah haji mencapai lebih dari 100.000 orang. Rasulullah memasuki Masjid al-Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak di samping telaga Zamzam di belakang Makam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak popular dengan nama Babussalam (Pintu Kedamaian). Perlu diketahui bahwa yang disebut Masjid al-Haram waktu itu adalah pelataran Ka’bah tempat shalat dan tawaf (secara harfiah, masjid artinya tempat sujud). Sedangkan bangunan masjid, baru dirintis pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) dan mengalami perluasan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang.

Juga perlu diketahui bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan harus masuk masjid dari gerbang Banu Syaibah atau Babussalam. Beliau masuk pintu itu karena memang datang dari arah utara. Gerbang yang dimasuki Nabi itu kini tidak ada lagi.

Baca Juga:
Sejarah Haji dan Umroh Bagian 1
Sejarah Haji dan Umroh Bagian 2

Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

One Reply to “Sejarah Haji dan Umroh (Bagian 3)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *