Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

Sejarah Umroh dan Haji (Bagian 1)

2 min read

Sejarah Umroh dan Haji - Perjanjian Hudaibiyah

Sejarah Umroh dan Haji – Menyempurnakan Ibadah sebagai umat muslim dengan melengkapi 5 rukun Islam adalah impian dari semua umat yang taat. Haji dan umroh menjadi urutan terakhir dari rukun Islam tersebut, dengan besarnya biaya yang dibutuhkan maka rukun islam terkhir ini hanya untuk yang mampu saja. Bagi orang yang mampu melaksanakan haji dan  haji kecil atau umroh, sebaiknya melakukan hal tersebut. Pahala yang didapat pun sangat besar. Untuk Anda yang belum memiliki kesempatan untuk melaksanakannya, kami segenap team Amana Tour & Travel mendoakan agar segera diberi kesempatan dan kelapangan rizky untuk segera melaksanakan.

Pada halaman ini, Amana Tour & Travel ingin membahas topik tentang sejarah umroh dan haji. Banyak umat melaksanakan ibadah tersebut tetapi sedikit yang mengetahui sejarah dari ibadah ini. Kenapa pahala yang terkandung sangat besar, darimana tuntunannya dll.

Sejarah Haji sebenarnya berawal dari ribuan tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, tepatnya pada masa Nabi Ibrahim as (1861-1686 SM), yang merupakan keturunan Sam bin Nuh as (3900-2900 SM). Literatur dalam Islam menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim lahir di Urkasdim, kota penting di Mesopotamia kemudian beliau berdiam pada sebuah lembah negri Syam.

Sampai pada usia senja, Nabi Ibrahim belum juga dikaruinai keturunan, Sarah bersedih hati dan meminta Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Akhirnya, Allah SWT mengaruniainya seorang putra bernama Islmail. Sarah tidak mampu memendam rasa pilu hatinya karena tidak mendapatkan keturunan sepanjang perkawinannya dengan Nabi Ibrahim as. Allah memerintahkan membawa Ismail bersama Hajar menjauh dari Sarah.

Degnan kuasa Allah, malaikat jibril membawa Hajar, Ismail, dan Nabi Ibrahim as. Dalam perjalannannya, setiap melewati suatu tempat dengan ladang kurma yang subur, ia meminta kepada Jibril untuk berhenti. Tetapi Jibril selalu menjawab, “teruskan lagi” dan “teruskan lagi”. Hingga sampai di Mekkahm Jibril menurunkan mereka di posisi Ka’bah. Di bawah sebuah pohon yang melindungi Hajar dan anaknya Ismail dari terik matahari.

mengapa engkau menempatkan kami di tempat ini?. Tempat yang sunyi, tidak ada manusia, hanya ada gurun pasir, tiada air, dan tiada tumbuh-tumbuhan?” tanya Hajar sambil memeluk erat putranya, Ismail yang masih bayi.

Ibrahim menjawab: “sesungguhnya Allah yang memerintahkanku menempatkan kalian disini”.

Lalu Ibrahim beranjak pergi meninggalkan mereka, sesampainya di bukit Kuday yang memiliki lembah, Ibrahim berhenti sejenak menoleh kebelakang dan melihat keluarga yang ditinggalkannya. Dia berdoa, doanya diabadikan dalam Al Qur’an.

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Allah berfirman mengulangi doa Ibrahim: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (Yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikan mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”

(QS Ibrahim: 37)

Ismail terus menangis kehausan dibawah terik matahari. Hajar panik mencari air, naluri keibuannya tidak menyerah untuk mencari sumber air. Awalnya Hajar naik ke bukit Safa tetapi tidak menemukan air. Lalu ia pergi lagi ke bukit Marwa dan disana pun tidak menemukan air. Hajar panik dan sedikit putus asa, sehingga ia tidak menyadari telah tujuh kali bilah balik antara bukti Safa dan Marwa. Namun ia tetap tidak menemukan air di antara dua tempat tersebut.

Akhirnya di bukit marwa, Hajar melihat ke arah ismail. Dia heran, bayinya tiba-tiba berhenti menangis. Ternyata ia melihat air mengalir dari bawah kaki Ismail. Hajar berlari dengan girang menuju tempat bayinya. Dia berusaha menggali pasir, membendung air yang mengalir tersebut sambil menyebut kata “Zam…Zam” (Menampung). Sejak saat itu hingga sekarang, mata air itu dikenal ke seluruh dunia dengan sebutan sumur “Zamzam”.

Beberapa lama kemudian, lewatlah Kabilah Jurhum di sekitar tempat itu. Ketika berada di bukit Arafah, mereka melihat kerumunan burung-burung beterbangan di atas udara. Mereka yakin disana pasti ada sumber air. Mereka segera mendekati tempat tersebut. Setelah sampai, mereka terkesima melihat seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon dekat sumber air itu. Kepala suku Jurhum bertanya pada Hajar: “siapakah Anda dan siapakah bayi yang bersama anda?” Hajar menjawab: “saya adalah Ibu dari bayu ini. anak kandung dari Ibrahim as yang diperintahkan  Allah untuk menempatkan kami di wadi ini”.

Lalu kepala suku Jurhum meminta izin tinggal berseberangan dengannya. Hajar menjawab: “tunggulah sampai Ibrahim datang. Saya akan meminta izin kepadanya”. Disinilah titik penting sejarah umroh dan haji yang kita laksanakan.

Tiga hari kemudian Ibrahim datang melihat kondisi anak dan istrinya. Hajar meminta izin kepada Ibrahim agar kabillah Jurhum bisa menjadi tetangganya. Nabi Ibrahim memberi izin. Kabilah Jurhum menjadi tetangga Hajar dan Ismail di tempat itu. Pada kesempatan berziarah selanjutnya, Ibrahim menyaksikan tempat itu sudah ramai oleh keturunan bangsa Jurhum. Ibrahim merasa senang melihat perkembangan itu.

Hajar hidup rukun dengan bangsa Jurhum hingga Ismail mencapai usia remaja. Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam. Tetapi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu. Qubah tersebut telah diangkat kembali oleh Allah ketika banjir besar menimpa bumi pada masa Nabi Nuh as. Kemudian Allah SWT mengutus Jibril untuk menunjukkan kembali kepada Ibrahim dimana posisi Ka’bah. Jibril datang membawa komponen Ka’bah dari Surga. Ismail muda membantu ayahnya mengangkat batu-batu dari bukit.

Bersambung……… sejarah umroh dan haji (Bagian 2)

Sumber

Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

2 Replies to “Sejarah Umroh dan Haji (Bagian 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *