Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

Wukuf di Arafah – Sejarah, Tata Cara, dan Hukumnya

2 min read

wukuf

Teruntuk calon jamaah haji, pastinya tidak asing dengan istilah wukuf di arafah. Wukuf merupakan salah satu rukun haji, tujuannya untuk mengingat nenek moyang kita, Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke Bumi dari surga karena mengingkari perintah Allah. Mereka terbawa oleh tipu daya sang Iblis. Sebagai hukumannya merekapun dipisahkan di dunia ini selama 40 tahun untuk bertemu kembali.

Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah . “al Haj ‘Arafah,“ demikian sabda Nabi saw. Wuquf berarti “berhenti“ walau sejenak. Wukuf berasal dari kata Waqafa yang bermakna ‘berhenti’.  Maka, Wukuf adalah bagian dari ritual haji yang memiliki arti mendalam. Aktifitas ini mengajari umat Islam untuk sejenak meninggalkan segala kesibukannya selama beberapa jam, yaitu berhenti dari kegiatan apapun agar semua orang bisa melakukan perenungan jati diri.

Rasulullah pernah bersabda: “Al-Hajju Arafah“. Kata tersebut artinya (puncak) dari ibadah haji itu adalah kegiatan wuquf di Arafah, sebuah kalimat yang menunjukkan betapa pentingnya kegiatan wuquf itu bagi jamaah haji.

Nabi Ibrahim AS setelah menerima perintah melalui mimpi-mimpi yang dialaminya untuk mengorbankan Ismail, putranya. Beliau juga menghentikan segala aktivitasnya. Ia kemudian melakukan Wukuf (kontemplasi, berdzikir, dan berdoa) di dalam tendanya sepanjang siang hari hingga sore. Ibrahim memohon ampunan dan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT.

Tata Cara

Apabila jamaah haji tidak berada di ‘Arafah pada saat tiba waktunya wukuf, maka sudah jelas bahwa hajinya batal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

“Artinya : Haji adalah wuquf di Arafah. Maka siapa yang mendapati ‘Arafah pada malam hari sebelum terbit fajar, sesunggunya dia telah mendapat haji

[Hadits Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Pada dasarnya tidak ada yang spesifik tentang kewajiban dalam kegiatan berwuquf, kecuali memang diperintahkan untuk berdiam di kawasan ‘Arafah antara waktu shalat dzuhur sampai shalat maghrib. 

Namun jika dipandang dari sisi pandangan dalam hukum Islam, siapa yang berhenti meskipun hanya sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka wukufnya dapat dianggap shahih.

Aktivitas dalam wukuf pun sebetulnya tidak ada perintah atau petunjuk yang benar-benar spesifik. Asalkan tidak keluar dari kawasan ‘Arafah itu dan tidak melanggar aturan-aturan dalam ibadah haji secara umum, maka jelas wukufnya dianggap sah. Dan, dengan sendirinya jamaah sudah memenuhi rukun haji.

Ada beberapa tata cara yang dilakukan saat wuquf. Tata cara wukuf, yaitu dimulai dengan mendengarkan khotbah wuquf, dilakukan dengan shalat jama’ taqdim, dapat dilakukan berjamaah atau sendirian. Saat wukuf juga disarankan memperbanyak istighfar,zikir, dan doa.

Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: bahwa Rasulallah saw berwukuf lalu berangkat (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam.

(HR Shahih at-Tirmidzi)

Inti Sari Wukuf

Semua ibadah harus dimulai dari niat. Tetapi Wukuf ini lebih mendalam dari sekedar niat. Karena ia berisi perenungan, pemikiran, pemahaman dan komitmen terhadap “niat”. Bukan hanya untuk keabsahan ritual haji yang sedang kita jalani, melainkan lebih jauh dari itu, untuk menjalani realitas hidup kita, sepulang dari tanah suci. Wukuf adalah bagian dari Tata Cara Haji yang tidak boleh dilewatkan.

Di tempat wukuf, Allah sudah menyiapkan jamaah situasi dan kondisi yang dapat dengan mudah mengantar pikiran serta jiwa agar lebih terarah kepada pencapaian kesempurnaan kita sebagai makhluk dwi dimensi;. Maksudnya adalah makhluk yang diciptakan Allah dari debu tanah dan Ruh Ilahi, tapi tujuannya bukan untuk menetap di dunia, melainkan membangun dunia guna mengekalkan kita di akhirat.

Rasul saw. berpesan: “Ada saat–saat dalam perjalanan masa ini dimana Allah menganugerahkan aneka anugerah, maka berusahalah menemukan saat-saat itu.”

Tafsir Al Misbah

Nah, untuk Anda yang tidak berada di tanah suci, cobalah sesekali “ber wukuf “, yakni menghentikan walau sejenak tubuh dan pikiran kita hiruk-pikuk kesibukan yang melanda. Memberikan waktu untuk jiwa, untuk merenung. Insya Allah dengan melakukan hal ini, Anda akan lebih mudah mendengar suara yang mengantarkan Anda untuk merasakan kehadiran Allah swt. Tidak hanya itu, akan ada juga dorongan untuk berinteraksi dengan-Nya.

dari Abu Hurairah ra Rasulallah saw bersabda: “Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”.

(HR at-Tirmidzi)

Arafah di sebut dalam Al-Qu’ran dalam bentuk plural ”Arafat” sebagaimana tertera dalam surat al-Baqarah ayat no. 198,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Artinya: ”Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat”


Baca Juga:

Ustadz My.ID Blog Pendidikan Agama Islam yang membahas tentang pengetahuan Islam secara umum. Mari sampaikan kebaikan meskipun hanya satu kata.

2 Replies to “Wukuf di Arafah – Sejarah, Tata Cara, dan Hukumnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *